Irina Bokova Puji Keterbukaan Informasi Publik di Indonesia
Jakarta : Direktur Jenderal Unisco Irina Bokova mengatakan jumlah wartawan yang tewas setiap tahun di seluruh dunia masih tinggi.
"Sementara ancaman wartawan bersifat mencemaskan, terutama di wilayah komplik, seprerti Suriah, di mana 14 wartawan kehilangan nyawa tahun 2016," kata Irina Bokova, saat memberikan sambutan pada pembukaan word press freedom day di Jakarta Convention Center, Rabu, (03/05/2017).
Serangan terhadap wartawan telah menyebar di negara negara diluar konflik. Keadaan bertambah runyam dengan semakin seringnya pelaku kejahatan terhadap itu menikmati impunitas yang dibiarkan.
Isu Impunitas, kebebasan dari hukum, membiarkan berlakunya swasensor baik para wartawan maupun nara sumber, dan merugikan masyarakat luas dalam memperoleh informasi.
"Kekebasan pers penting untuk memperkuat pembangunan, ancaman bisnis media adalah digital network, dan citize njurnalizem, kekerasan pers. Dan pembunuhan wartawan adalah bentuk sensor yang paling kejam dan jahat bagi pers," katanya dihadapan Wapres Yusuf Kalla, Mantan Presiden Timur Leste, duta sahabat, Menkopolkam Wiranto, mendiknas, dewan pers, dan para peserta dari seluruh dunia.
Irina Bokova, memuji Indonesia yang mencontoh hukum pers Indonesia Law, pers independen dan Keterbukaan informasi publik di Indonesia.
"Mari bersama Indonesia menegakkan kebebasan pers di dunia. Kekebasan penting untuk memperkuat pembangunan. Karena ancaman bisnis media adalah digital network, dan citizemjurnalizem, dan kekerasan pers. Soal Hoax bisa dilawan dengan moral," katanya.
Selama ini Unesco membela dan menyelamatkan pers. Melakukan dialog dialog dan perdamaian, dan menghimbau kepada Negara negara untuk membetikan keadilan terhadap pers. Di Afrika Unisco mendukung pers melalui hakim, agar untuk perkuat perlindungan hukum pada pers. (rilis)


0 komentar: