Bandar Lampung : Persoalan Kereta Api Babaranjang terus disorot. Sebab, selama ini selalu dikeluhkan para pengendara karena selalu menimbukan kemacetan usai melakukan perlintasan.
Menurut Anggota Komisi IV DPRD Lampung, Watonie Nurdin mengungkapkan untuk pemindahan rel kereta khusus babaranjang perlu anggaran besar, karena harus membuat rel KA yang baru.
“Pemindahan rel akan menambah anggaran saja, hal ini jelas kurang efektif,” ujar Watoni.
Ia mengungkapkan, ada solusi untuk mengurangi kemacetan akibat perlintasan babaranjang, yakni pengefektifan waktu perlintasan kereta. Watoni menilai, selama ini kereta babaranjang terlalu sering melintas.
“Setiap hari setidaknya ada 8 perlintasan KA babaranjang, baik pagi, siang maupun malam.Akibatnya timbul kemacetan, kalau waktu tersebut diefesienkan, tentunya kemacetan bisa dihindari,”ungkapnya.
Politisi PDIP ini menambahkan, pengefektifan waktu, yakni perlintasan kereta babaranjang di buat dua kali saja dalam sehari. Dengan pemangkasan waktu tersebut, diharapkan tidak adanya keluhan lagi tentang kemacetan dari masyarakat Bandar Lampung. “Untuk melintas pun, tentunya waktunya diatur, tidak pada jam-jam sibuk seperti pagi atau sore hari,” tutupnya.
Sebelumnya Pemerintah Provinsi Lampung bersama PT Kereta Api Indonesia (KIA) akan segera mewujudkan pembangunan double-track railway guna memisahkan kereta penumpang dan kereta barang/industri. Upaya ini diharapkan mengurai kemacetan serta mengatasi polusi udara, khususnya di wilayah Kota Bandar Lampung.
"Kereta barang, seperti kereta pengangkut batu bara kiranya memiliki jalur khusus di luar lintasan kota Bandar Lampung. Dengan demikian, kepentingan industri sebagai pengerak roda ekonomi Provinsi Lampung tetap berjalan dengan baik namun tidak mengganggu kepentingan umum lainnya," ujar Gubernur M. Ridho Ficardo ketika menerima Audiensi PT. Kereta Api Indonesia (PT.KAI) yang dipimpin oleh Direktur Komersial PT. KAI Pusat (Bandung) Muhammad Kuncoro Wibowo dan Direktur Operasi PT. KAI Pusat (Bandung) Slamet Suseno, di Ruang Kerja Gubernur (R)


0 komentar: