Dalam sambutannya Ridho menjelaskan arah pembangunan Lampung
kedepan, dan beberapa program strategis yang sedang dilakukan Pemprov maupun
program pusat di Lampung.
Ia menjelaskan Pembangunan Lampung difokuskan menjadi tiga
kawasan, mulai dari Kawasan Industri di Timur Lampung, Ketahanan Pangan di
daerah Tengah Lampung, dan Kawasan Wisata di Barat Lampung. Dan bila
pembangunan Pemprov dan beberapa investasi pusat berjalan sesuai rencana, maka
Ia harapkan Kota Bandar Lampung sebagai Ibukota sekaligus etalase Provinsi
Lampung harus bersiap.
Dampak positif dari pembangunan tentulah akan dirasakan, namun
Ridho menekankan yang harus menjadi perhatian jajaran Pemerintah Kota Bandar
Lampung adalah efek-efek negatif dari pembangunan yang masif. Untuk itu Ridho
mengajak jajaran Pemkot untuk bersama-sama mencegah permasalahan tersebut
sedini mungkin.
"Tidak ada satu daerah pun yang maju dengan sendiri, harus
bersama-sama dan kita saling membutuhkan dan saling mengisi." Ujar Ridho.
Untuk itu Ia juga mengusulkan Bandar Lampung menjadi Kota Mega
Metropolitan, dan pada hari ini disebut Ridho usai Rakor dengan Pemkot, Kepala
Bappeda Provinsi Lampung langsung menuju Medan untuk membahas hal tersebut
dengan Kementerian terkait.
Ridho berjanji Pemprov siap membantu Pemkot Bandar Lampung dan
siap mendampingi jajaran Pemkot mencari dana dan investasi di luar Lampung dan
melakukan pendekatan dengan Pemerintah Pusat. Demi kemajuan Kota Bandar Lampung
yang akan berimbas ke daerah sekitar.
Salah satu yang benar-benar ditekankan oleh Ridho atas efek
pembanguan adalah masalah kemacetan yang akan semakin parah bila tidak diobati
sejak sekarang, Pemprov bersama Pemkot harus merumuskan agar permasalahan macet
di Kota Bandar Lampung bisa diatasi sebelum semakin parah, dengan salah satu
alternatifnya adalah membuat subway atau MRT.
"Permasalah Kemacetan Kota Bandar Lampung waktu yang tepat
diatasinya adalah pada 20 tahun yang lalu, saat masih lenggang, namun tidak ada
kata terlambat. Saat ini Bandar Lampung masih stadium 1, belum seperti Jakarta
ataupun Bandung yang mulai kronis." ujar Ridho.
Ridho juga menjelaskan bahwa Ia berdiskusi dengan Kementrian
Perhubungan, bahwa akan dibuat kereta api dari Bandara Raden Inten hingga ke
pusat Kota Bandar Lampung, dengan beberapa sub stasiun nantinya. Ini juga merupakan
langkah untuk mengurai kemacetan, dan kelancaran transportasi menuju Bandara
dan tempat-tempat startegis di Bandar Lampung.
Khusus Pembangunan di Kota Bandar Lampung, lebih jauh Ridho
ungkapkan Ia akan banyak melakukan pembangunan dan pembenahan aset Pemprov di
wilayah Bandar Lampung dengan nilai anggaran puluhan hingga ratusan miliar,
namun mengingat kecilnya APBD maka pembangunan dilakukan dengan mencari
dana-dana di Pusat dan Investasi lainnya. Dan beberapa pembangunan sudah mulai
berlangsung.
"PKOR dan GOR akan diperbaiki sekitar 60 miliar serta
perbaikan Stadion sekitar 200 miliar. Diperbaiki sebaik mungkin agar olahraga
bisa lebih baik lagi. Dan kita bangun Kawasan Olahraga juga di dekat ITERA.
Selain itu, GOR Saburai yang sudah tua dipindahkan, dan bersamaan dengan Pasar
Seni dijadikan Ruang Terbuka Hijau. Kita juga coba bangun Convention
Center. Tidak pakai APBD, salah satunya memakai sindikasi perbankan." Ujar
Ridho.
Ia menjelaskan pula alasan tidak memperbaiki Stadion pahoman,
karena setelah ditelaah tidak memenuhi standar sepak bola justru Stadion PKOR
yang lebih baik, oleh karena itu Stadion PKOR yang akan dibangun dengan standar
nasional agar ada klub level nasional yang bisa masuk dan Lampung sebagai
"kandang" klub tersebut.
Ridho melanjutkan untuk Stadion Pahoman akan menjadi Taman Kota,
karena Ia banyak mendapat keluhan kurangnya Taman Bermain di Kota Bandar
Lampung.
"Stadion Pahoman ada di pusat Kota, kalo bikin acara dampak
macetnya parah, dan setelah ditelaah sulit memenuhi standar sepak bola. Karena
masyarkat butuh ruang refreshing, stadion pahoman kita jadikan Taman Kota,
disana nanti keluarga bisa bermain, komunitas bisa kumpul, yang mau main futsal
nanti kita buatkan juga dan sediakan gawang yang bisa bongkar pasang." Jelas
Ridho.
Ridho juga menyinggung mengenai rencana pembanguna Perpustakaan
terbesar, walau banyak pro-kontra, pembangunan Perpustakaan ini tetap
dilanjutkan dengan planning awal sekitar 100 miliar bahkan disebut dinaikan
menjadi 150 miliar. Bagi Ridho, tentulah ini dana yang besar namun karena bukan
APBD yang mendanai pembangunan perpustakaan tersebut, tentulah ini bisa menjadi
kebanggan Lampung kedepannya dan mempunyai banyak manfaat.
Dalam kesempatan ini Ridho juga menantang para eselon II
Kab/Kota untuk mencari dana masuk dan investasi sebanyak-banyak untuk
pembangunan, mengingat kekuatan fiskal Lampung secara keseluruhan kecil.
"Kalau cuma abisin APBD itu kelas Kasubag juga bisa, kalo
sudah eselon II yang dinilai seberapa besar anda bisa bawa dana masuk. Makanya
saya beri ruang para kepala Dinas di Provinsi untuk cari dana di luar seefektif
mungkin." Kata Ridho.
Ia menyampaikan pula pesan Presiden Jokowi pada kesempatan ini,
yakni mengenai kecepatan dan ketepatan serapan anggaran disetiap satker di
Kab/Kota dan Provinsi. Dan ia menghimbau keselarasan dalam pembanguan anatara
Penprov dan Kab/Kota terutama mengenai Infrastruktur.
Acara Rakor ini dihadiri PJ Walikota Bandar Lampung, Ketua DPRD
Bandar Lampung, Jajaran Pejabat Pemerintahan Pemprov Lampung, Forkopimda Kota
Bandar Lampung, dan pejabat eselon Pemkot Bandar Lampung.(rilis)
